Beberapa keluhan walimurid di banyak sekolah adalah khawatir anak-anaknya tertinggal pelajaran. Seorang guru di sebuah sekolah yang mengikuti pelatihan Design Thinking untuk Kurikulum yang Adaptif juga mengeluhkan hal yang sama. Meminta tips bagaimana anak-anak tidak tertinggal pelajaran, bagaimana mereka bisa mendapatkan nilai yang baik di Ujian Nasional tahun 2021, jika UN diadakan kembali.
Bagaimana dengan Anda ayah bunda ? Memiliki kecemasan yang sama ? Bagiamana dengan Anda cik gu ? Merasakan kekhawatiran yang sama juga ?
Saya rasa, banyak walimurid dan guru yang memiliki kecemasan yang sama. Wajar ini ada di kepala kita. Namun, benarkah demikian ? Benar, jika berpikir bahwa belajar hanyalah menjalankan rutinitas dan menghabiskan jatah-jatah halaman dalam buku dan kurikulum. Benar, jika beranggapan bahwa akademis adalah prioritas utama dalam perkembangan anak-anak kita. Benar, jika kita berpandangan bahwa materi kurikulum adalah sebuah kewajiban yang musti dijalankan.
Pendidikan, selama ini memang dianggap seperti itu. Dan wajar jika guru dan orang tua berpadangan seperti itu.
Sekarang, coba kita renungkan dengan melihat lebih luas. Gunakan paradigma anak. Apa sih yang kira-kira ada di kepala mereka di kondisi seperti ini. Benarkah tentang padatnya materi-materi itu ? Atau sesuatu yang lain ? Bisa jadi, apa yan kita lakukan selama ini lebih pada memenuhi ego kita sebagai orang dewasa, bukan berpijak pada kebutuhan mereka.
Reframing. Ini kata kunci yang saya dapatkan ketika berdiskusi dengan istri tercinta beberapa pekan lalu. Membuat frame ulang terhadap kesulitan yang menimpa pada diri kita. Karena mau gak mau, kesulitan itu akan tetap ada. Mau dibuat seperti apapun, kondisinya memang sulit anak-anak mendatkan materi pelajaran seperti sebelum pandemik. Hikmah selalu ada dalam setiap peristiwa yang diciptakan oleh Allah SWT. Hikmah ini reframing dalam bahasa kita. Gampangnya begini, benefit/keuntungan apa yang bisa anak-anak atau kita dapatkan dalam kondisi ini. Banyak sebenarnya jika kita mau berhenti sebentar untuk merenung.

Ini beberapa hal yang saya renungkan. Bahwa banyak hal yang anak-anak dapatkan di kondisi ini. -Bahwa mereka adalah anak-anak yang beruntung karena merasakan pandemik di usia sekolah, artinya ini pelajaran besar yang datangnya100 tahun sekali, yang tak semua manusia merasakan ini. Mereka melihat bagaimana kesulitan-kesulitan terjadi, ini bisa dijadikan bahan diskusi oleh guru dan orang tua. Mereka juga beruntung karena belajar grafik eksponensial secara langsung, bukan dari rumus-rumus. Mereka juga bisa belajar tentang bagaimana vaksin diluncurkan dari berita-berita terkini tenang bagaimana perusahaan farmasi melakukan ujicoba vaksin ke beberapa relawan di Indonesia. Bahwa tiba-tiba anak-anak usia 6 tahun mengerti apa itu raise hand di apliasi zoom. Mengerti bagaimana membuka audio di zoom. Dan banyak lain jika kita mau melakukan reframing tentang pandemik dan kondisi anak-anak kita. Pandemik ini 100 tahun sekali terjadi, dan tidak akan terulang kembali di kehidupan seorang manusia, tapi kumpulan-kumpulan materi bisa berganti setiap saat, bisa pula dirapel, atau bahkan bisa jadi ditinggalkan sebagian karena tidak dibutuhkan pada kondisi yang kontekstual.
Peter F Drucker, seorang pakar manajemen, mengatakan "Bahaya terbesar dalam sebuah bencana adalah bukan bencana itu sendiri, tapi cara bertindak kita pada logika masa lalu (sebelum bencana)"

Lalu, sekarang apa tindakan kita di dunia pendidikan ? Hanya memindahkan pelajaran dari kelas menuju ruang Zoom ? Yang sejatinya sama dengan kondisi sebelum pandemik ? Atau melakukan sesuatu yang benar-benar berbeda ? Melakukan reframing dan mengambil keuntungan dari kesulitan ini ? Pilihan tentu ada di tangan kita sebagai pengambil kebijakan.
Menteng - Jekan Raya, 22 Juli 2020
Rizqi Tajuddin
#BabahAca
Bagaimana dengan Anda ayah bunda ? Memiliki kecemasan yang sama ? Bagiamana dengan Anda cik gu ? Merasakan kekhawatiran yang sama juga ?
Saya rasa, banyak walimurid dan guru yang memiliki kecemasan yang sama. Wajar ini ada di kepala kita. Namun, benarkah demikian ? Benar, jika berpikir bahwa belajar hanyalah menjalankan rutinitas dan menghabiskan jatah-jatah halaman dalam buku dan kurikulum. Benar, jika beranggapan bahwa akademis adalah prioritas utama dalam perkembangan anak-anak kita. Benar, jika kita berpandangan bahwa materi kurikulum adalah sebuah kewajiban yang musti dijalankan.
Pendidikan, selama ini memang dianggap seperti itu. Dan wajar jika guru dan orang tua berpadangan seperti itu.
Sekarang, coba kita renungkan dengan melihat lebih luas. Gunakan paradigma anak. Apa sih yang kira-kira ada di kepala mereka di kondisi seperti ini. Benarkah tentang padatnya materi-materi itu ? Atau sesuatu yang lain ? Bisa jadi, apa yan kita lakukan selama ini lebih pada memenuhi ego kita sebagai orang dewasa, bukan berpijak pada kebutuhan mereka.
Reframing. Ini kata kunci yang saya dapatkan ketika berdiskusi dengan istri tercinta beberapa pekan lalu. Membuat frame ulang terhadap kesulitan yang menimpa pada diri kita. Karena mau gak mau, kesulitan itu akan tetap ada. Mau dibuat seperti apapun, kondisinya memang sulit anak-anak mendatkan materi pelajaran seperti sebelum pandemik. Hikmah selalu ada dalam setiap peristiwa yang diciptakan oleh Allah SWT. Hikmah ini reframing dalam bahasa kita. Gampangnya begini, benefit/keuntungan apa yang bisa anak-anak atau kita dapatkan dalam kondisi ini. Banyak sebenarnya jika kita mau berhenti sebentar untuk merenung.
Ini beberapa hal yang saya renungkan. Bahwa banyak hal yang anak-anak dapatkan di kondisi ini. -Bahwa mereka adalah anak-anak yang beruntung karena merasakan pandemik di usia sekolah, artinya ini pelajaran besar yang datangnya100 tahun sekali, yang tak semua manusia merasakan ini. Mereka melihat bagaimana kesulitan-kesulitan terjadi, ini bisa dijadikan bahan diskusi oleh guru dan orang tua. Mereka juga beruntung karena belajar grafik eksponensial secara langsung, bukan dari rumus-rumus. Mereka juga bisa belajar tentang bagaimana vaksin diluncurkan dari berita-berita terkini tenang bagaimana perusahaan farmasi melakukan ujicoba vaksin ke beberapa relawan di Indonesia. Bahwa tiba-tiba anak-anak usia 6 tahun mengerti apa itu raise hand di apliasi zoom. Mengerti bagaimana membuka audio di zoom. Dan banyak lain jika kita mau melakukan reframing tentang pandemik dan kondisi anak-anak kita. Pandemik ini 100 tahun sekali terjadi, dan tidak akan terulang kembali di kehidupan seorang manusia, tapi kumpulan-kumpulan materi bisa berganti setiap saat, bisa pula dirapel, atau bahkan bisa jadi ditinggalkan sebagian karena tidak dibutuhkan pada kondisi yang kontekstual.
Peter F Drucker, seorang pakar manajemen, mengatakan "Bahaya terbesar dalam sebuah bencana adalah bukan bencana itu sendiri, tapi cara bertindak kita pada logika masa lalu (sebelum bencana)"
Lalu, sekarang apa tindakan kita di dunia pendidikan ? Hanya memindahkan pelajaran dari kelas menuju ruang Zoom ? Yang sejatinya sama dengan kondisi sebelum pandemik ? Atau melakukan sesuatu yang benar-benar berbeda ? Melakukan reframing dan mengambil keuntungan dari kesulitan ini ? Pilihan tentu ada di tangan kita sebagai pengambil kebijakan.
Menteng - Jekan Raya, 22 Juli 2020
Rizqi Tajuddin
#BabahAca
Subhanalloh Walhamdulillah..
BalasHapusDapat pencerahan dari blog ini..., Reframing..
Terimakasih pencerahannya...
Terima Kasih
HapusMasya Allah tuliaan ini memberikan inspirasi dictengah pandemi
BalasHapus