Langsung ke konten utama

94. Takdir Bertemu Wong Apik (1)

Takdir Bertemu Wong Apik


Pekan lalu, saya baru ingat bahwa ada postingan Pak Lukman tentang Konvensi Pendidikan Ojo Leren Dadi Wong Apik yang ke-9.

Pertama, saya gak tahu kegiatan apa ini.
Kedua, tapi saya penasaran dengan nama kegiatan ini.

Lalu, segera saya coba kontak pak Lukman via messenger FB dan lanjut via WA. Sedikit dan minim info yang saya dapat. Setelah acara, pak Lukman meminta maaf ke seluruh peserta karena lambat respon dan menjawab seadanya, karena banyaknya wa yang masuk. He he he. Iso canthengen iki jal.

Dari info yang sedikit itu, saya putuskan untuk coba beranikan diri untuk berangkat. Yang akhirnya membuat jadwal travel saya ubah dari Ponorogo ke Malang, jadi Ponorogo ke Blitar. Kebetulan tanggal 2-4 Januari saya mengisi pelatihan guru kelas di Ponorogo. Jadi, sambil menyelam, minum sirup marjan.

Tanggal 5 pagi, saya sudah hadir di lokasi konvensi  Dan kopdar langsung dengan pak Lukman. Dan mendapat cerita bahwa ini adalah kegiatan dari, dan untuk semua. Semua boleh bicara, semua boleh berbagi. "Kita ingin membuat perubahan di pendidikan dengan cara-cara sederhana" begitulah kira-kira yang disampaikan beliau. Tak ada biaya yang dipatok, semua boleh menyumbang berapa aja. Dan dahsyat sekali, bahwa panitia tidak menyangka ada 93 lembaga dan 400 peserta yang mendaftar. Saya banyak bertanya karena ini adalah kehadiran pertama saya di Konvensi OLDWA.

Apa yang saya rasakan di kegiatan ini ? Ini memang sesuai dengan namanya, Ojo Leren dadi Wong Apik. Banyak orang baik dan haus ilmu bertemu di sini. Bahkan, saya bisa diberi tumpangan hingga terminal Arjosari Malang oleh Ust Ismail dkk dari Pesantren Yatim di Singosari (nanti akan saya bikin tulisan tersendiri) Selain haus ilmu, saya juga yakin mereka yang hadir (bahkan ada yang 8-10 jam perjalanan darat) adalah orang-orang baik yang ingin berkontribusi untuk perubahan di pendidikan di Indonesia. Meski perubahan itu kecil dan dimulai dari masing-masing.

Kebetulan dengan berani saya mendaftar untuk ikut berbagi, dan luar biasanya ketika kegiatan dan pasca kegiatan banyak yang bertanya. Mungkin lebih dari 10 pertanyaan. Dan itu saya lihat juga di kelas-kelas lain. Di kegiatan ini dibagi menjadi 4 kelas. Yakni kelas PAUD, PKBM, inklusi dan sekolah formal.

Di kegiatan ini, di setiap kelas itu, siapa saja yang siap boleh berbagi dan kolaborasi jika memungkinkan. Sebuah kegiatan yang unik, tapi keren. Sederhana, gak bertele-tele, gak ada seremonial yang gak penting. Cak cek lah kalo kata orang Bangil.

Jika kemarin ada bertanya, apa rencana tindak lanjut setelah acara ini ? Yang ada di benak saya adalah bagaimana menduplikasi kegiatan ini di Kalimantan Tengah. Berkolaborasi untuk membuat pendidikan yang merdeka. Bisa ? Insya Allah bisa. Berat ? Pasti untuk memulai sesuatu yang baik tak ada yang mudah.
Bagaimana teman-teman Kalteng ? Siapkah ?


Bangil, 6 Januari 2020


Rizqi Tajuddin/ #BabahAca
Direktur Sekolah Sahabat Alam Palangka Raya


embunpetakdanum.blogspot.com

Youtube chanel Sahabat Tsaura

Komentar

  1. Terimakasih kasih pak sharing nya kemarin... Semoga Allah membalas kebaikan bapak dan keluarga Aamin

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

A. 1. Sesederhana reframing *) (Kisah Residen yang Positif Covid19)

  Kakinya ringan saja menapaki pagi itu. Sebagai seorang residen, sebutan bagi peserta pendidikan dokter spesialis, long weekend tanpa tugas jaga adalah surga yang sangat dirindukan. Membayangkan pertemuan dan cengkerama hangat dengan keluarga, mengukir sungging senyumnya. Bahagianya membuncah tatkala membayangkan si sulung tampan menyambut kedatangannya, si tengah yang penuh perhatian dan ceria, serta tangan mungil bungsu berlesung pipit yang memeluk erat tubuhnya. Entah sudah berapa purnama berlalu dirinya tidak bisa memeluk tiga mutiara hatinya ini.  Ah, pandemi dengan segala ketidakpastiannya ini semoga segera enyah, batinnya. Sengaja dirinya singgah di sebuah rumah sakit yang bersebelahan dengan asrama haji di kotanya. Mengambil hasil pemeriksaan laboratorium sebagai syarat menunggang si burung besi, sebelum menuju bandara. Petugas yang menelponnya beberapa hari lalu mengatakan hasil pemeriksaan bisa diambil dan hasilnya negatif. Perlahan dibukanya amplop berisi selembar ...

106. Design Thinking/Design Sprint for Education

Yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri. Sering kita mendengar kata-kata magic ini. Perubahan adalah bagian dari kehidupan memang. Punahnya hewan yang ada di alam ini adalah karena hewan tersebut tidak bisa melakukan perubahan di kondisi yang ada. Dan memang itulah fitrah mereka. Sedangkan kita, manusia, adalah makhluk yang paling bisa beradaptasi dengan perubahan. Manusia diberi akal untuk itu. Nah, tapi kita juga sering melihat perusahaan atau usaha akhirnya gagal beradaptasi dan akhirnya gagal pula melanjutkan kiprahnya.Namun, ada juga usaha yang sudah berusia ratusan tahun, tapi kita melihat masih eksis dan terlihat masih menggunakan model aslinya. Tapi benarkah tidak ada perubahan sama sekali sehingga usaha tersebut bisa bertahan ? Ternyata tidak juga, Mereka tetap melakukan inovasi, meski kadang inovasinya bukan di produknya, tapi bisa jadi di marketingnya, kemasannya, manajemennya dan hal-hal lainnya.  Saya ambil contoh Montessori, mereka menggunakan kurikulum...

105. Pandemik dan Tertinggal Pelajaran

Beberapa keluhan walimurid di banyak sekolah adalah khawatir anak-anaknya tertinggal pelajaran. Seorang guru di sebuah sekolah yang mengikuti pelatihan Design Thinking untuk Kurikulum yang Adaptif juga mengeluhkan hal yang sama. Meminta tips bagaimana anak-anak tidak tertinggal pelajaran, bagaimana mereka bisa mendapatkan nilai yang baik di Ujian Nasional tahun 2021, jika UN diadakan kembali. Bagaimana dengan Anda ayah bunda ? Memiliki kecemasan yang sama ? Bagiamana dengan Anda cik gu ? Merasakan kekhawatiran yang sama juga ? Saya rasa, banyak walimurid dan guru yang memiliki kecemasan yang sama. Wajar ini ada di kepala kita. Namun, benarkah demikian ? Benar, jika berpikir bahwa belajar hanyalah menjalankan rutinitas dan menghabiskan jatah-jatah halaman dalam buku dan kurikulum. Benar, jika beranggapan bahwa akademis adalah prioritas utama dalam perkembangan anak-anak kita. Benar, jika kita berpandangan bahwa materi kurikulum adalah sebuah kewajiban yang musti dijalankan. Pendid...